Wednesday, October 28, 2009

ku DamBa CinTa ILLaHi,RedHoNya ku JeJaKI..

Ya Allah Yang Maha Memiliki Segalanya yang bukan milik kami, saksikanlah bahawa hambaMU yang hina dan lemah ini telah menyampaikannya…berikanlah cahaya penglihatan pada mata hati kami, sesungguhnya dunia ini penuh debu dosa yang mengotori mata kepala kami Ya Allah…tunjukkanlah kami jalan yang lurus lagi Engkau redai dan berikanlah kami kekuatan untuk mengikuti ajaran Islam yang sebenar-benarnya Ya Allah..Engkaulah kekuatan kami dan hanya padaMU kami memohon segalanya, Ameen Ya Rabbal A’lameen..

       

     

     
ya ALLAH!

ya ALLAH! dugaan apakah ini?
mengapa manusia disekelilingku begini?

wahai kawan2 ku..
mengapakah ini yg kamu semua lakukan?
perlukah aku khabarkan apa yg ada dalam hati ku?


PERLUKAH AKU KHABARKAN

LIHAT PADA PERMUKAAN
NAMPAKNYA TERLALU TENANG
TAPI DI DALAM HATI YANG TERPENDAM PERSOALAN

PERLUKAH AKU KHABARKAN YANG KU ALAMI
APAKAH AKAN TERJAWAB SEMUA
PERLUKAH AKU BUKAKAN KEAIBANMU
SEMUANYA TERLETAK DALAM HATI KECILKU

SEGALA KEBENARAN ATAU PENJELASANKU
MEMPUNYAI BERBAGAI TAFSIRAN TERSEMBUNYI

OH KU MOHON PADA-MU TUHAN
BERIKANLAH KEKUATAN
UNTUKKU MENGHADAPI SEMUA INI

TUHAN KU TERUS BERSERAH
BERIKAN AKU HIDAYAH
AGAR TIDAK TERSALAH ARAH DAN TERSILAP LANGKAH

Perlukah aku lakukan semua ini..perlukah aku berikan penjelasan..
walau apa yg aku lakukan..ia tetap takkan selesai kerana kamu semua akan memberi pelbagai tafsiran dan andaian..
aku hanya boleh bermohon pada ALLAH untuk beri kekuatan dan kesabaran..

ya ALLAH! disaat ini aku benar-benar terasa hanya ENGKAU segalanya..ya ALLAH! mungkin ini kasihMU kepadaku..mungkin ini jawapan segala doaku kepadaMU..

aku pohon kekuatan..KAU berikan aku ujian..
aku pohon kesabaran..KAU berikan aku dugaan..
aku pohon cintaMU dan selalu dekat denganMU..KAU berikan aku liku dan mehnah untuk menuju kepadaMU..

ya ALLAH! jika inilah jawapan pada doaku..ku masih memohon..
ku mohon agar ENGKAU terus berada di sisi..memandang aku dengan kasih sayangMU..memberikan aku jalan untuk menghadapinya..
ku mohon agar KAU tuntuni setiap langkahku agar ku tak tersasar di tengah jalan..
ku mohon agar KAU terus berada dalam hatiku..agar aku dpat melihat semua ini adalah dariMU..agar aku dalam menerima semua ini dengan hati terbuka..dengan senyuman..

ya ALLAH! berilah aku kekuatan, kesabaran dan ketabahan..ujian ini tidak getor seperti ujian yang KAU timpakan buat rasulMU..aku hanya mampu bermohon agar KAU sentiasa bersamaku..tidak membiarkanku melangkah sendirian..tidak dalam sekelip mata @ kurang dari itu..nescaya aku akan lelah dan lemah..

ya ALLAH! hanya cintaMU yang aku dambakan..
KAU menunjukkan kepadaku..tiada hebatnya manusia di mata ku..
tiada setianya seorang manusia berada di sisi..
tiada kasihnya seorang manusia berada di sisi..
tiada yang lebih setia dan tiada yang lebih kasih..
tiada yang lebih mendorong ku melainkanMU..
hanya KAU setia di sisi..susah dan senang..
aku yg terkadang leka dengan duniawi..

ya ALLAH! tiada cinta seindah cintaMU..
ya ALLAH! tiada yg lebih hebat dariMU..
bercinta denganMU tidak akan pernah kecewa..
ku akui ya ALLAH!
ingin memiliki cintaMU juga bukanlah mudah..
kerana cintaMU cinta sejati..
kerana cintaMU cinta mati..
maka harga maharnya terlalu mahal..
aku perlu sakit untuk memiliki cintaMU..

ya ALLAH! aku pinta cintaMU..
bantulah aku..
tunjukkan jalannya padaku..

[ hamba yg benar-benar merindui kasihmu ]
Readmore »

Wednesday, October 21, 2009

Election For Enginius

That day is coming


election for mainboard engineering society

IIUM campus


make sure you take part to vote your choice





vote for the best among you especially in religion
Readmore »

Saturday, October 17, 2009

Kembali semula

Salam buat pembaca semua.
maaf atas kesulitan yang berlaku.
ramai ker yang tak dapat baca blog kami.

hihihi
Astagfirullah..jangan ketawa banyak-banyak deh..

xper..skang kami dah repair sikit.
maklumlah busy memanjang
nampak gaya syawal dah pun meninggalkan kita..
masih ada lagi ke yang tak puas beraya???
Anyway skang mood nak dekat final..
ALL THE BEST
Readmore »

Thursday, September 24, 2009

PUASA ENAM BULAN SYAWAL?APER TU?

SALAM SAHABAT2
APA KHABAR IMAN DIHATI?

SALAM LEBARAN UMMU UCAPKAN


DAN TAK LUPA PNTA KMAAFAN DARI KAMI PENULIS BLOG

SEPANJANG MENULIS ADA YANG TERSALAH KATA

kali ni ummu nak share tentang intipati tajuk diatas

jom baca..



Rasulullah SAW bersabda (yang artinya) : “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dan meneruskannya dengan enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seolah-olah berpuasa selama setahun” (Hadis Riwayat Imam Muslim. Kitab Puasa).
Hadis ini menjadi hujjah kepada para ulama khususnya dan umat Islam seluruhnya untuk mengamalkan puasa sebanyak enam hari di bulan Syawal setelah menunaikan puasa bulan Ramadhan sebulan penuh.
Sebenarnya puasa enam hari ini mempunyai beberapa hikmah yang tertentu dari sudut kesehatan manusia itu sendiri. Puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan antaranya menyebabkan sistem percernaan di dalam badan beristirahat seketika di waktu siang selama sebulan. Kedatangan bulan Syawal menyebabkan seolah-olah ia mengalami kejutan dengan diberikan tugas mencerna pelbagai makanan pada hari raya dan hari-hari sesudahnya, apakan lagi amalan masyarakat kita suka mengadakan kenduri pada musim-musim perayaan. Pada hari raya, ia mencerna pelbagai jenis makanan mulai dari ketupat rendang sampai nasi yang mengandung minyak. Oleh karena itulah, puasa enam ini memberikan ruang kembali kepada sistem pencernaan badan untuk beristirahat dan bertugas secara berangsur-angsur untuk kebaikan jasmani manusia itu sendiri.
Selain dari itu, sebagai manusia yang menjadi hamba Allah SWT, alangkah baiknya apabila amalan puasa yang diwajibkan kepada kita di bulan Ramadhan itu kita teruskan juga di bulan Syawal walaupun hanya enam hari. Ini seolah-olah menunjukkan bahwa kita tidak melakukan ibadah puasa semata-mata karena ia menjadi satu kewajiban tetapi karena rasa diri kita sebagai seorang hamba yang benar-benar bersungguh-sungguh untuk taqarrub kepada Tuhannya. Bukankah ibadah puasa ini menurut hadis sebenarnya mengekang nafsu syahwat ?
Di dalam hadis di atas, Rasulullah SAW menyatakan bahwa puasa enam hari setelah bulan Ramadhan akan diganjari pahala seolah-olah berpuasa selama setahun. Para ulama menguraikan rahasia di balik ganjaran tersebut dengan menyampaikan dalil bahwa setiap amalan kebaikan manusia akan diganjari sebanyak 10 kali lipat. Puasa 30 hari di bulan Ramadhan diganjari sebanyak 300 hari, sedangkan puasa enam hari di bulan Syawal juga diganjari dengan 60 hari. Jika diperkirakan jumlahnya 360 hari, jumlah ini hampir menyamai jumlah hari di dalam setahun sebanyak 360-365! Subhanallah. Dan sesungguhnya Allah berhak untuk memberikan ganjaran sebanyak yang dikehendakiNya.
Di antara persoalan yang sering timbul sekitar puasa enam ialah adakah harus menggabungkan di antara dua puasa yaitu puasa qadha’ dan puasa enam hari di bulan Syawal. Adakah diganjari dengan kedua-dua pahala tersebut dengan puasa yang satu? Syeikh Atiyyah Saqr, mantan Ketua Lajnah Fatwa Al-Azhar ketika ditanya tentang persoalan ini menyatakan bahwa sudah cukup bagi seorang yang ingin melakukan puasa qadha’ dan puasa enam dengan berniat puasa qadha’ dibulan Syawal, dan ia akan diganjari dengan dua ganjaran sekaligus seandainya dia bertujuan demikian dengan syarat dia perlu mendahulukan niat puasa qadha’ terlebih dahulu. Ini adalah karena puasa qadha’ adalah wajib sedangkan puasa enam adalah sunat.
Kebanyakan ulama Syafi’iyyah berpendapat bahawa ganjaran puasa enam tetap akan diperolehi apabila seseorang berpuasa qadha’ sekalipun ia tidak berniat menggabungkan kedua-duanya, tetapi pahala yang diperolehi kurang daripada seorang yang berniat kedua-duanya. Di dalam kitab As-Syarqawi ‘Alat Tahrir yang ditulis oleh Syeikh Zakaria Al-Ansori dinyatakan bahwa jika seseorang berpuasa qadha’ yang tertinggal di bulan Ramadhan atau bulan selainnya, atau puasa nazar atau puasa sunat yang lain di bulan Syawal, maka ia akan tetap diganjari dengan pahala puasa enam sekalipun ia tidak berniat bahkan jika ia tidak mengetahui sekalipun tentang puasa enam. Ini adalah karena ia telah memenuhi maksud hadis Rasulullah SAW agar berpuasa di bulan Syawal. Namun, pahala yang diperolehi tentulah kurang daripada orang yang berniat kedua-duanya sekaligus. Beliau mengambil contoh salat tahiyyatul masjid, jika seseorang memasuki masjid dan terus melakukan salat fardhu bersama jemaah atau sendiri, maka dia akan diganjari dengan dua pahala sekaligus yaitu bersama pahala salat tahiyyatul masjid. Ini adalah karena maksud salat tahiyyatul masjid ialah seseorang bersalat begitu memasuki masjid sebelum ia duduk.
Namun, kebanyakan ulama berpendapat bahwa sekalipun pahala puasa enam bersama puasa qadha’ akan diganjari bersama-sama puasa yang satu, seseorang yang melakukan kedua-duanya secara terpisah tetap akan mendapat kelebihan yang banyak di sisi Allah SWT. Ini adalah karena sebagai seorang hamba yang tunduk kepada Allah SWT, memperbanyak amalan taqarrub dengan memisahkan di antara yang menjadi kewajiban dengan yang menjadi anjuran tentulah lebih menunjukkan kesungguhan diri sebagai seorang hamba mencari rida Tuhannya.
Persoalan selanjutnya, bagaimanakah jika seseorang khususnya wanita ingin berpuasa secara terpisah di antara puasa enam dan puasa qadha’, yang manakah yang sewajarnya didahulukan? Adakah di dalam kasus ini kaedah mendahulukan yang wajib dipakai? Syeikh Jaafar Ahmad Tolhawi, salah seorang ulama al-Azhar, menyatakan, puasa enam seharusnya didahulukan karena ia hanya boleh diamalkan di dalam bulan Syawal saja.
Adapun puasa qadha’, seseorang itu bebas melakukan di dalam waktu 10 bulan berikutnya sebelum tibanya bulan Ramadhan yang akan datang. Ini bertepatan dengan amalan Ummul Mukmin Aisyah RA yang berpuasa qadha’ di bulan Sya’ban dan diakui oleh Rasulullah SAW dan dikira sebagai sunnah taqririyyah. Namun, jika ia menggabungkan kedua-duanya sekaligus, ia juga diharuskan.

Sebagai kesimpulan, marilah kita sama-sama melakukan ibadat puasa enam yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW ini. Apakah ingin menggabungkan puasa enam dengan puasa yang lain atau ingin melakukannya secara terpisah, itu terpulanglah kepada diri kita sendiri berdasarkan kemampuan yang ada pada diri kita. Yang penting ialah kita ingin ia menjadi saksi di hadapan Allah SWT nanti sebagai tanda bahwa diri ini benar-benar ingin mencari dan memburu keridaanNya. Semoga kita dimasukkan di dalam golongan orang-orang yang mendapat keberhasilan di dunia dan di akhirat kelak. Amin.



Sumber : http://www.jaring.my/weblog/
Readmore »

Thursday, September 10, 2009



assalamualaikum buat pembaca sekalian





pejam celik akhirnya kita telah pun memasuki malam2 genting yakni malam terakhir ramadhan

jika ada yang tidak tahu apa yang perlu dilakukan pada malam-malam ini.

disini ummu nak share serba sikitlah apa yang ummu dapat.

pada 10 malam terakhir ini eloklah kita beriktikaf dimasjid

meletakkan diri kita sebagai hamba dan beribadat untuk NYA

seikhlas yang mungkin.

jangan asyik ingat nak beraya jer tapi persiapan diri dan iman tak diperkemaskan

yang selalo siap baju raya, kueh raya..langsir.ishk3x


kita sama-samalah cuba berubah kepada kebaikan yek

tak mampu berubah banyak..ubahlah sikit-sikit

kat bawah ni sedikit panduan tentang iktikaf






GALAKAN IKTIKAF 10 TERAKHIRIktikaf pada 10 terakhir Ramadhan amat digalakkan
syarak.Dalilnya:

i- Daripada Ibnu Umar r.a. katanya:

كان رسول الله يعتكف العشر الأواخر من رمضانMaksudnya “Bahawa Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam
beriktikaf pada sepuluh terakhir Ramadhan” HR Bukhari dan Muslim
ii- Daripada Aisyah r.a. katanya:
أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يعتكف العشر الأواخر من رمضان حتى توفاه الله ثم اعتكف أزواجه من بعده
Maksudnya “Bahawa Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam beriktikaf pada sepuluh terakhir
Ramadhan sehingga Allah mewafatkan baginda. Kemudian, isteri-isterinya terus beriktikaf selepasnya” HR Bukhari dan Muslim.
HUKUM IKTIKAF
Beberapa ulama menaqalkan ijmak bahawa hukumnya adalah sunat, tidak wajib. Ia hanya
menjadi wajib sekiranya dinazarkan.
Ibnu Batthal menyebut: “Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melazimi iktikaf menunjukkan ia
adalah sunat muakkadah (sangat dituntut)”
Kata Ibnu Shihab “Alangkah peliknya orang-orang muslimin yang meninggalkan iktikaf,
sedangkan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah sekalipun meninggalkannya semenjak
baginda masuk ke Madinah.”
2) Maksud iktikaf itu sendiri ialah: menahan, menetap, dan melazimi sesuatu. Jadi, perbuatan
keluar daripada masjid, walaupun dengan hajat menafikan erti dan tujuan iktikaf itu. Kerana itu,
ketika iktikaf, dibenarkan keluar jika ada hajat yg sangat mendesak. sebagaimana disebut dalam
hadis:
kata Aisyah: “Sunnah ke atas org yg iktikaf ialah: tidak melawat org sakit, tidak mengiringi jenazah, tidak menyentuh wanita, tidak mubasyarah dengan wanita, TIDAK KELUAR UNTUK HAJAT kecuali dalam perkara yg tidak boleh dielakkan, Dan tidak ada iktikaf melainkan dengan puasa, dan tidak ada iktikaf melainkan di masjid jamik”.Riwayat ABu Daud. Kata Ibn Hajar: “La Baksa Bi RIjalihi” (Tidak mengapa dengan perawi2nya). Cuma yang rajihnya ialah ayat terakhir hadis itu adalah mauquf.Rujuk: Bulughul Maram m/s: 423.
Waktu iktikaf

Iktikaf wajib tergantung pada berapa lama waktu yang dinazarkan, sedangkan iktikaf sunat tidak ada batasan waktu tertentu, bila-bila saja pada malam atau siang hari, waktunya boleh lama atau singkat.
Ya'la bin Umayyah berkata: " Sesungguhnya aku berdiam satu jam di masjid tak lain hanya untuk beriktikaf."
Orang yang iktikaf harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:
Muslim
Berakal
Suci dari janabah (junub), haid dan nifas.
Oleh kerana itu, iktikaf tidak sah bagi orang kafir, anak yang belum mumaiyiz (mampu membezakan), orang junub, wanita haid dan nifas.
Rukun-rukun iktikaf
Niat (QS. Al Bayyinah : 5), (HR: Bukhari & Muslim tentang niat)
Berdiam di masjid (QS. Al Baqarah : 187)
Di sini ada dua pendapat ulama tentang masjid tempat iktikaf. Sebahagian ulama membolehkan iktikaf di setiap masjid yang diguna untuk solat berjemaah lima waktu.
Hal itu dalam rangka menghindari seringnya keluar masjid dan untuk menjaga pelaksanaan solat jemaah setiap waktu.
Ulama lain mensyaratkan agar iktikaf itu dilaksanakan di masjid yang diguna untuk membuat solat Jumaat, sehingga orang yang beriktikaf tidak perlu meninggalkan tempat iktikafnya menuju masjid lain untuk solat Jumaat
Hal-hal yang diperbolehkan bagi mutakif (orang yang beriktikaf)
Keluar dari tempat iktikaf untuk menghantar isteri, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w terhadap isterinya Sofiyah ra. (HR. Riwayat Bukhari dan Muslim)
Menyisir atau mencukur rambut, memotong kuku, membersihkan tubuh dari kotoran dan bau badan.
Keluar dari tempat keperluan yang harus dipenuhi, seperti membuang air besar dan kecil, makan, minum (jika tidak ada yang menghantarkannya), dan segala sesuatu yang tidak mungkin dilakukan di masjid, tetapi ia harus segera kembali setelah menyelesaikan keperluannya .
Makan, minum, dan tidur di masjid dengan sentiasa menjaga kesucian dan kebersihan masjid.

Hal-hal yang membatalkan iktikaf
Meninggalkan masjid dengan sengaja tanpa keperluan walaupun sebentar, kerana meninggalkan salah satu rukun iktikaf iaitu berdiam di masjid.
Murtad ( keluar dari agama Islam )
Hilangnya akal, kerana gila atau mabuk
Haid atau Nifas
Berjimak (bersetubuh dengan isteri) (QS. 2: 187), akan tetapi memegang tanpa syahwat, tidak apa-apa sebagaimana yang dilakukan Nabi dengan isteri- isterinya.
Pergi solat Jumaat (bagi mereka yang membolehkan iktikaf di surau yang tidak digunapakai untuk solat Jumaat).
Diambil daripada "http://ms.wikipedia.org/wiki/Iktikaf"
ummu harap info ini dapatlah membantu kita serba sedikit tentang iktikaf
dapat mengupas sedikit apa yang didalam minda
akhir kalam semoga kita sentiasa menjadi hamba yang bersyukur
dengan kelebihan yang ALLAH beri keatas ummat Nabi Muhammad SAW
Readmore »

Sunday, September 6, 2009

Ahlan wasahlan Hari yang dinanti



Peristiwa nuzul al-Quran menjadi satu rakaman sejarah dalam kehidupan Nabi SAW hingga seterusnya berperingkat-peringkat menjadi lengkap sebagaimana kitab al-Quran yang ada pada kita hari ini. Peristiwa Nuzul al-Quran berlaku pada malam Jumaat, 17 Ramadan, tahun ke-41 daripada keputeraan Nabi Muhamad SAW. Perkataan ‘Nuzul’ bererti turun atau berpindah dari atas ke bawah. Bila disebut bahawa al-Quran adalah mukjizat terbesar Nabi SAW maka ianya memberi makna terlalu besar kepada umat Islam terutamanya yang serius memikirkan rahsia al-Quran.



‘Al-Quran’ bererti bacaan atau himpunan. Di dalamnya terhimpun ayat yang menjelaskan pelbagai perkara meliputi soal tauhid, ibadat, jinayat, muamalat, sains, teknologi dan sebagainya. Kalimah al-Quran, sering dicantumkan dengan rangkai kata ‘al-Quran mukjizat akhir zaman’ atau ‘al-Quran yang mempunyai mukjizat’. Malah inilah sebenarnya kelebihan al-Quran tidak ada satu perkara pun yang dicuaikan atau tertinggal di dalam al-Quran. Dengan lain perkataan segalanya terdapat di dalam al-Quran. Firman Allah:
Dan tidak seekor pun binatang yang melata di bumi, dan tidak seekor pun burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan mereka umat-umat seperti kamu. Tiada Kami tinggalkan sesuatu pun di dalam kitab Al-Quran ini; kemudian mereka semuanya akan dihimpunkan kepada Tuhan mereka (untuk dihisab dan menerima balasan). (Al-An’am:38)






al-Quran adalah hidayah, rahmat, syifa, nur, furqan dan pemberi penjelasan bagi manusia.. Segala isi kandungan al-Quran itu benar. Al-Quran juga dikenali sebagai Al-Nur bererti cahaya yang menerangi, al-Furqan bererti yang dapat membezakan di antara yang hak dan batil dan al-Zikr pula bermaksud yang memberi peringatan.
Dalam sejarah kehidupan Nabi SAW ayat al-Quran yang mula-mula diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan malaikat Jibrail ialah lima ayat pertama daripada surah Al-‘Alaq. maksudnya:
”Bacalah (wahai Muhammad) dengan nama Tuhan mu yang menciptakan (sekalian makhluk), Ia menciptakan manusia dari sebuku darah beku; Bacalah, dan Tuhan mu Yang Maha Pemurah, -Yang mengajar manusia melalui pena dan tulisan, -Ia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (al-‘alaq:1-5)

Hubungan Lailatul Qadar dan Nuzul al-Quran
Lailatul Qadar pula ialah suatu malam pada bulan Ramadhan yang begitu istimewa sekali fadilatnya. Malam al-Qadar adalah suatu malam yang biasanya berlaku pada 10 akhir Ramadhan dan amalan pada malam itu lebih baik baik dari 1000 bulan.
Apakah kaitannya malam al-Qadar dengan nuzul al-Quran? Sebenarnya al-Quran dan malam Lailatulqadar mempunyai hubungan yang rapat antara satu sama lain sebagaimana yang diterangkan di dalam kitab Allah dan hadis Rasulullah SAW di antaranya firman Allah SWT
Maksudnya: Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Quran) ini pada Malam Lailatul-Qadar, Dan apa jalannya engkau dapat mengetahui apa dia kebesaran Malam Lailatul-Qadar itu? Malam Lailatul-Qadar lebih baik daripada seribu bulan. Pada Malam itu, turun malaikat dan Jibril dengan izin Tuhan mereka, kerana membawa segala perkara (yang ditakdirkan berlakunya pada tahun yang berikut); Sejahteralah Malam (yang berkat) itu hingga terbit fajar! (al-Qadar:1-5)

Mengikut satu pandangan, ayat ini diturunkan berdasarkan satu riwayat dari Ali bin Aurah, pada satu hari Rasulullah SAW telah menyebut 4 orang Bani Israel yang telah beribadah kepada Allah selama 80 tahun. Mereka sedikit pun tidak derhaka kepada Allah, lalu para sahabat kagum dengan perbuatan mereka itu. Jibril datang memberitahu kepada Rasulullah SAW menyatakan bahawa Allah SWT menurunkan yang lebih baik dari amalan mereka. Jibril pun membaca surah al-Qadar dan Jibril berkata kepada Rasulullah ayat ini lebih baik daripada apa yang engkau kagumkan ini menjadikan Rasulullah SAW dan para sahabat amat gembira.
Dalam hadis yang lain Aishah juga meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda bersedialah dengan bersungguh-sungguh untuk menemui malam Lailatul qadar pada malam-malam yang ganjil dalam 10 malam yang akhir daripada bulan Ramadhan.

Panduan
Dari maklumat serba sedikit di atas tadi sebenarnya banyak boleh dijadikan panduan kepada umat Islam seluruhnya. Antara panduan berkenaan ialah seperti:
1. Tidak ada perkara yang tidak terdapat dalam al-Quran
2. Ayat pertama diturunkan ialah ‘iqra’ iaitu ‘baca’ dan Tuhan mengajarkan manusia melalui perantaraan Pena dan Tulisan.
3. Kelemahan umat Nabi Muhammad beribadat maka dianugerahkan satu masa yang apabila kita mendapatkannya kita akan digandakan pahala melebihi seribu bulan.

Apabila disebutkan bahawa tidak ada perkara yang tidak terdapat di dalam al-Quran itu maka ianya memberikan makna bahawa segala ilmu pengetahuan yang merangkumi fardu ‘ain dan fardu kifayah dalam segenap aspek kehidupan merangkumi ekonomi, sosial, perundangan, pendidikan, sains dan teknologi dan lain-lain, segalanya terdapat dalam al-Quran. Tafsiran, kupasan analisa dan penyelidikan membolehkan umat Islam maju mendahului umat-umat lain di dunia ini.
Manakala penurunan al-Quran pula didahului dengan suatu kalimah ‘iqra’’ iaitu ‘baca’ di mana membaca adalah kunci kepada penerokaan ilmu. Selepas itu pula Allah mengiringi dengan ayat yang bermaksud; Yang mengajar manusia melalui pena dan tulisan, -Ia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” Keadaan ini menguatkan lagi bahawa pembacaan dan penulisan itu menjadi antara perkara yang paling penting dalam penguasaan ilmu pengetahuan. Di mana sebagaimana diketahui umum melalui satu ungkapan bahawa: “ilmu pengetahuan dan teknologi itu adalah kuasa”.
Perkara ketiga ialah hikmah dari anugerah malam al-qadar kepada umat Nabi Muhammad SAW sebagai umat akhir zaman. Mengetahui kelemahan umat Islam akhir zaman ini dalam beribadah maka dianugerahkan satu peluang di mana ibadah yang dilaksanakan pada malam itu digandakan sehingga 1000 bulan. Bermakna kiranya kita dapat melaksanakan ibadah dengan penuh keimanan di 10 akhir Ramadhan, kita akan berpeluang mendapat malam al-Qadar. Ini akan menjadikan kita seolah-olah beramal ibadah selama 1000 bulan iaitu sekitar 83 tahun. Menjadikan kita seolah-olahnya menghabiskan seluruh hidup kita dan usia kita dalam ibadah.
Bagi mencari malam-malam yang berkemungkinan sebagai malam al-qadar, maka kalangan ulama ada menyatakan bahawa, malam-malam yang ganjil yang tersebut ialah malam 21, 23, 25, 27 & 29 dari bulan Ramadhan. Dalam pada itu terdapat juga beberapa hadis yang menyatakan bahawa malam al-qadar itu pernah ditemui dalam zaman Rasulullah SAW pada malam 21 Ramadhan. Pernah juga ditemui pada malam 23 Ramadhan. Terdapat juga hadis yang mengatakan bahawa baginda Rasulullah SAW. menjawab pertanyaan seorang sahabat yang bertanya mengenai masa Lailatulqadar supaya ianya bersedia dan menghayatinya. Baginda menjelaskan malam Lailatulqadar itu adalah malam 27 Ramadhan. Dari keterangan-keterangan di atas dapatlah kita membuat kesimpulan bahawa malam Lailatulqadar itu berpindah dari satu tahun ke satu tahun yang lain di dalam lingkungan 10 malam yang akhir dari bulan Ramadhan. Yang pastinya bahawa masa berlakunya malam Lailatulqadar itu tetap dirahsiakan oleh Allah SWT supaya setiap umat Islam menghayati 10 malam yang akhir daripada Ramadhan dengan amal ibadat. Dengan beribadah di sepuluh malam terakhir itu, mudah-mudahan akan dapat menemuinya sebagai bekalan kehidupan akhirat.
Kesimpulan
Sebagai kesimpulannya marilah kita sama-sama menghayati nuzul al-Quran ini sebagai suatu peristiwa besar yang penuh makna dan hikmah. Kita seharusnya melihat al-Quran itu sebagai ‘kitab induk’ panduan Ilmu pengetahuan untuk memajukan manusia seluruhnya. Memajukan manusia yang lebih penting adalah memajukan umat Islam terlebih dahulu melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Membaca al-Quran itu adalah suatu ibadah. Sekarang bolehlah kita panjangkan ‘membaca’ al-Quran itu kepada menganalisa, mengkaji, menyelidiki dan mencari rahsia ilmu pengetahuan di dalam al-Quran dan seterusnya menghasilkan penulisan-penulisan yang akhirnya memajukan dunia ini dan khasnya memajukan umat Islam dan seterusnya mengeluarkan umat Islam dari belenggu kelemahan dan penghinaan. Umat Islam juga perlu mempertingkatkan amal ibadah terutamanya mengejar anugerah Tuhan yang tidak terhingga kepada umat Islam akhir zaman. Beribadah di 10 akhir Ramadhan memberikan kita peluang keemasan ganjaran pahala seolah-olah beribadah sepanjang hidup kita iaitu 1000 bulan (sekitar 83 tahun).

dipetik dari:JAKIM

Readmore »

Thursday, August 27, 2009

^ 1 ^ QALBUN


Pernahkah anda rasa berdebar-debar, gelisah, tidak tenteram, tidak sedap hati dan sebagainya?
Semua fenomena itu sebenarnya adalah isyarat yang dipancarkan oleh hati seseorang bahawa ada sesuatu yang menjadi ancaman kepada diri manusia dan ianya dapat dikesan oleh hati.

Sabda Rasullulah s.a.w: 'Sesungguhnya di dalam diri manusia itu ada seketul daging. Jika daging itu baik, maka baiklah seluruh anggota badannya. Tetapi seandainya daging itu rosak dan kotor, maka kotor dan rosaklah seluruh anggota badannya. Dan daging yang dimaksudkan adalah hati.'

Hati adalah ibarat raja bagi tubuh badan manusia. Di sinilah tersimpan tenaga yang hebat seperti pemikiran dan tenaga emosi. Jika hati seseorang itu diisi dengan sifat mahmudah(baik) maka hebatlah seluruh anggota badannya dan akan melahirkan seseorang yang berakhlak mulia. Jika hati telah dikotori dengan sifat mazmumah(keji) maka rosaklah peribadi dan akhlak seseorang itu.
Readmore »

*Ahlan Wasahlan Ramadhan Kareem **

Setiap orang yang mengaku beriman dengan kebesaran Allah pasti akan bergembira apabila tiba bulan Ramadhan Al Mubarak di setiap tahun (Anda bagaimana?). Asbabnya Ramadhan satu-satunya bulan yang penuh dengan rahmat dan keberkatan yang tidak terdapat di dalam bulan-bulan yang lain, oleh sebab itu Rasulullah s.a.w. menjelaskan Ramadhan adalah penghulu kepada sebelas bulan yang lain. Hanya orang yang kenal kelebihan Ramadhan sahaja yang akan bersedia bila menjelangnya bulan yang mulia ini.






Betapa besarnya fadilat bulan Ramadhan ini dapat kita fahami dari hadis Rasulullah s.a.w. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang bererti:
Readmore »

Tuesday, August 18, 2009

TAQWA


Kebanyakan orang tidak faham apa sebenarnya taqwa.
Walaupun istilah taqwa selalu disebut tetapi ilmu tentang
taqwa tidak pernah diajar.Syarat-syarat dan rukun-rukun taqwa
juga tidak pernah dinyatakan. Orang sudah lali dengan perkataan
taqwa. Sesetengah orang menganggap perkataan taqwa
itu sudah tidak ada erti apa-apa lagi kerana kebanyakan orang
tidak faham.

Sebab itu, setiap kali disuruh bertaqwa, orang tidak bertaqwa.
Disebut Ittaqullah, ‘bertaqwalah kamu kepada Allah’,
namun orang tidak bertaqwa juga. Walhal suruhan supaya
bertaqwa itu disebut dalam setiap khutbah sembahyang Jumaat
kerana ia adalah rukun khutbah. Kalau tidak disebut taqwa, tidak
sah sembahyang Jumaat walaupun sembahyang khusyuk. Tetapi
walaupun selalu disebut, orang tidak faham. Ia tidak jadi ilmu,
ia tidak jadi amalan dan pegangan, jauh sekali untuk dihayati.
Oleh itu macam mana hendak jadi orang yang bertaqwa.

Taqwa bukan setakat melaksanakan perintah dan meninggalkan
larangan. Bukan setakat menunai ketaatan dan menjauhkan
kemaksiatan. Bukan setakat membuat apa yang disuruh dan
meninggalkan apa yang dilarang. Bukan juga setakat meninggalkan
apa yang haram dan menunaikan apa yang fardhu.
Bukan setakat menjauhkan yang syirik dengan beramal dan taat
kepada Allah. Bukan setakat menjauhkan diri dari segala apa
yang akan menjauhkan diri kita daripada Allah. Bukan setakat
menghadkan diri kepada yang halal sahaja dan bukan setakat
Kebanyakan orang tidak faham apa sebenarnya taqwa.
Walaupun istilah taqwa selalu disebut tetapi ilmu tentang
taqwa tidak pernah diajar. Jalan untuk mendapatkan taqwa
beramal untuk menjuruskan ketaatan kepada Allah sematamata.
Inilah kupasan dan kefahaman tentang taqwa yang dibawa
oleh para ustaz, para muallim, orang yang hafaz Quran dan
Hadis bahkan juga para mufti dan kadhi. Taqwa itu tersangat
dipermudahkan sehingga orang tidak merasakan bahawa taqwa
itu penting dan perlu diperjuangkan demi untuk mendapat keselamatan
di dunia dan Akhirat. Maksud taqwa sebenarnya lebih
dalam dan lebih luas dari itu. Taqwa adalah antara perkara yang
terpokok dalam agama.

Orang membuat apa yang disuruh dan meninggalkan apa
yang dilarang atau orang menunaikan ketaatan dan menjauhkan
kemaksiatan, tidak semestinya berasaskan taqwa. Mereka
taat mungkin kerana ada sebab-sebab lain. Mungkin mahu
upah, mahu dipuji, mahu pengaruh atau untuk mengambil hati
orang. Mereka meninggalkan apa yang dilarang pun mungkin
ada sebab-sebab lain. Mungkin kerana mahu dihormati, mahu
menjaga nama dan kedudukan, takut dihukum, takut orang
mengata dan menghina atau takut dipulaukan orang.

TAKRIF
Bila disebut taqwa, orang terjemah sebagai takutkan Tuhan. Itu
tidak betul. Taqwa bukan bererti takut. Taqwa pada Tuhan bukan
bererti takutkan Tuhan. Takut kepada Tuhan hanyalah satu
daripada sifat mahmudah yang terangkum dalam sifat taqwa
tetapi ia bukan taqwa. Takut dalam bahasa Arab ialah khauf atau
khasya.

Taqwa berasal dari perkataan waqa–yaqi–wiqoyah yang
ertinya memelihara. Hujahnya ialah ayat Al Quran seperti
berikut:

Maksudnya: “Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah
kamu memelihara diri kamu dan keluarga kamu
dari api Neraka.” (At Tahrim: 6)

Di dalam Al Quran, kerap Tuhan menyeru dengan kalimah
ittaqu atau yattaqi. Di mana ada tambahan huruf pada asal
kalimah waqa, ia membawa perubahan kepada makna. Di sini
ittaqullah membawa maksud hendaklah kamu mengambil
Allah sebagai pemelihara/pembenteng/pelindung. Iaitu hendaklah
jadikan Tuhan itu pelindung. Jadikan Tuhan itu kubu atau
benteng. Bila sudah berada dalam perlindungan, kubu atau
benteng Tuhan, perkara yang negatif dan berbahaya tidak akan
masuk atau tembus. Atau jadikan Tuhan itu dinding dari kejahatan.
Usaha untuk menjadikan Allah sebagai pemelihara atau
pelindung atau pembenteng ialah dengan melaksanakan perkara-
perkara yang disuruh oleh Allah lahir dan batin. Dengan
kata-kata yang lain, perkara yang disuruh itu ialah membina
sifat-sifat mahmudah. Mengumpul dan menyuburkan sifat-sifat
mahmudah itulah usaha bagi menjadikan Allah itu sebagai
pemelihara atau pelindung. Membina sifat-sifat mahmudah
itulah usaha ke arah taqwa.

Taqwa atau wiqoyah telah disalahertikan. Maksudnya telah
disempitkan. Ia sebenarnya adalah lebih global dan luas. Ia
adalah gudang mahmudah dan merupakan himpunan segala
sifat-sifat mahmudah. Di situ ada sabar, redha, pemurah, berkasih
sayang, pemaaf, memberi maaf, meminta maaf dan sebagainya.
Seluruh sifat mahmudah itulah taqwa. Jadi, besarlah
erti taqwa. Ia membawa keselamatan dunia dan Akhirat.
Oleh itu, kalau dikatakan ittaqullah, maknanya yang sebenar
ialah ‘hendaklah kamu mengambil Allah sebagai pemelihara’.
Oleh sebab istilah-istilah Islam telah banyak disalah guna dan
disalahertikan, maka hilang berkatnya. Bila disebut istilahistilah
Islam, tidak terasa apa-apa. Contohnya ialah perkataan
‘khalwat’. Maksudnya mulia iaitu menyendiri dengan Tuhan. Ia
satu bentuk amalan sufi. Tetapi maksudnya itu telah
diselewengkan dengan membawa erti ‘berdua-duaan lelaki dan
perempuan yang bukan ajnabi’. Begitulah juga istilah ittaqullah
ini. Setiap minggu pada hari Jumaat, dilaung-laungkan di
mimbar masjid tetapi para jemaah tidak terasa apa-apa. Berkatnya
telah hilang kerana maksudnya telah disalahertikan.

Untuk menjadi orang yang bertaqwa ertinya menjadi orang
yang berada dalam perlindungan Tuhan atau dalam pemeliharaan
Tuhan. Orang yang berada dalam benteng dan kubu
Tuhan. Dia selamat dari serangan luar. Serangan luar tidak lut
dan tidak mengenai dirinya. Orang bertaqwa itu seolah-olah
telah dipakaikan baju besi atau jaket kalis peluru.
Taqwa adalah pakaian jasad batin atau roh. Ia adalah amalan
jiwa atau roh. Taqwa adalah perkara dalaman dan banyak melibatkan
amalan hati. Kalau sungguh-sungguh diamalkan dan
dihayati, akan lahir sifat-sifat mahmudah seperti jujur, adil,
benar, berkasih sayang, lemah lembut, pemurah, tawadhuk,
pemalu, bertimbang rasa, berperikemanusiaan, sabar, redha,
tawakal, bertolak ansur, mengutamakan orang lain, pemaaf,
amanah, tekun, rajin, lapang dada, bekerjasama, simpati, belas
kasihan dan sebagainya.

Orang yang bertaqwa adalah orang yang luar biasa. Sebab
dia manusia yang sudah bersifat malaikat. Sifat malaikat sudah
ada dalam dirinya. Dia sudah jadi orang Tuhan. Sebab itulah
dia dibantu dan dibela oleh Tuhan. Orang bertaqwa sahaja yang
akan selamat di dunia dan di Akhirat.


Readmore »

Monday, August 10, 2009

MUWASOFAT

10 Muwasofat merupakan ciri-ciri utama pembinaan seorang kader dakwah. Dari detik pertama seseoarang itu menjejaki alam tarbiyyah, dia tidak dapat di pisahkan dengan pembinaan muwasofat-muwasofat ini sehingga dirinya terus di baluti oleh Islam yakni menjadi individu muslim yang unggul. Berikut merupakan sedikit pendetailan terhadap 10 Muwasofat.

Berkata Iman Hassan Al-Banna ketika melalui marhalah ini
'Wajib ke atas setiap muslim memulakan dengan memperbaiki dirinya, kesempurnaan itu dapat dilihat bila ia telah dapat memiliki beberapa perkara yang meletakkan ia di peringkat tertentu yang menjadikan ia mampu untuk memikul tanggungjawab amal Islami'


1. Akidah yang sejahtera (Salimul Aqidah)
· Redha Allah sebagai tuhan, Islam sebagai Agama dan Muhammad saw sebagai Nabi.
· Sentiasa muraqabah Allah dan mengingati akhirat, memperbanyakkan nawafil dan zikir.
· Menjaga kebersihan hati, bertaubat, istighfar, menjauhi dosa dan syubhat.

2. Ibadah yang betul (Sahihul Ibadah)
· Perlu melakukan ibadat yang meninggikan roh dan jiwanya.
· Perlu belajar untuk membetulkan amalannya dan mengetahui halal dan haram.
· Tidak melampau atau berkurang (pertengahan).

3. Akhlak yang mantap (Matiinul Khuluq)
· Akhlak kita ialah Al-Quran dan ditunjukkan oleh Nabi saw.
Dijelaskan beberapa unsur oleh Imam Al-Banna dalam kewajipan daie iaitu sensitif, tawadhu, benar dalam perkataan dan perbuatan, tegas, menunai janji, berani, serius, menjauhi teman buruk dll.

4. Mampu berusaha (Qaadiran ala Kasbi)
· Walaupun kaya, perlu bekerja.
· Tidak terlalu mengejar jawatan dalam kerajaan/resmi.
· Meletakkan jawatan dan tempat kerja mengikut keperluan dakwah lebih utama dari gaji dan pendapatan.
· Melakukan setiap kerja dengan betul dan sebaiknya (ihsan).
· Menjauhi riba dalam semua lapangan.
· Menyimpan untuk waktu kesempitan.
· Menjauhi segala bentuk kemewahan apatahlagi pembaziran.
· Memastikan setiap sen yang dibelanja tidak jatuh ke tangan bukan Islam.

5. Berpengetahuan luas (Mutsaqqafal Fikri)
· Perlu berpengetahuan tentang Islam dan maklumat am supaya mampu menceritakan kepada orang lain.
· Perlu bersumberkan kepada Al-Quran dan Hadis dan diterangkan oleh ulama yang thiqah.
· Pesan Imam Banna: Perlu boleh membaca dengan baik, mempunyai perpustakaan sendiri dan cuba menjadi pakar dalam bidang yang diceburi.
· Mampu membaca Al-Quran dengan baik, tadabbur, mempelajari sirah, kisah salaf dan kaedah serta rahsia hukum yang penting.

6. Kuat tubuh badan (Qawiyyal Jism)
· Dakwah berat tanggungjawab dan tugas - perlukan badan yang sihat dan kuat.
· Rasulullah saw menitikberatkan soal ini. Maksud Hadis : Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dikasihi Allah dari mukmin yang lemah, tetapi pada keduanya ada kebaikan
· Pesanan al-Banna:
Memeriksa kesihatan diri, mengamalkan riadhah dan tidak memakan/minum suatu yang merosakkan badan

7. Mampu melawan nafsu (Mujahadah ala Nafsi)
· Perlu azam yang kuat untuk melawan kehendak nafsunya dan mengikut kehendak Islam.
· Tidak menghiraukan apa orang kata dalam mempraktikkan Islam.
· Daie mungkin melalui suasana sukar yang tidak akan dapat dihadapi oleh orang yang tidak
biasa dengan kesusahan.

8. Menjaga waktu (Haarithun ala Waqtihi)
· Waktu lebih mahal dari emas, waktu adalah kehidupan yang tidak akan kembali semula.
· Sahabat sentiasa berdoa agar diberkati waktu yang ada pada mereka..Aku adalah makhluk baru.. menjadi saksi kepada manusia.

9. Tersusun dalam urusan (Munazzamun fi syu’unihi)
· Untuk manfaatkan waktu dengan baik.. perlu penyusunan dalam segala urusan.
· Gunakan segala masa dan tenaga tersusun untuk manfaat Islam dan dakwah.

10. Berguna untuk orang lain. (Nafi’un li ghairihi)
· Daie umpama lilin yang membakar diri untuk menyuluh orang lain.
· Daie adalah penggerak dakwah dan Islam. Masa depan Islam, hidup mati Islam bergantung kepada daie.
· Amal Islam ialah untuk menyelamatkan orang lain dari kesesatan.
· Daie merasa gembira bila dapat membantu orang lain. Paling indah dalam hidupnya ialah bila dapat mengajak seorang manusia ke jalan Allah

DIPETIK DARI: halawatul iman
Readmore »